Mukadimah Tafsi Al-Quran Juz I

Tafsir Al-Quran Juz 1

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil…” (QS Al-Baqarah [2]: 185)

Al-Quran merupakan wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malak Jibril a.s., diawali dengan Surah Al-Fâtihah dan diakhiri dengan Surah Al-Nâs, untuk disampaikan kepada manusia, yang dinilai ibadah bagi orang membacanya.

Continue reading “Mukadimah Tafsi Al-Quran Juz I”

Mukadimah Tafsir Al-Quran Juz IX

Tafsir Juz 9

Bismillahirrahmanirrahim

“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran,nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS  Hûd [11]: 120)

Puji dan syukur selalu kita persembahkan ke hadirat Allah Swt, karena berkat rahmat-Nya kitab Tafsir Juz  IX ini dapat hadir di hadapan pembaca yang budiman.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, nabi akhir zaman, para keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amien.

Kitab Tafsir Unisba Juz IX di hadapan pembaca ini terdiri atas dua surat, yaitu bagian akhir dari surat Al-A’râf (ayat 88 sampai dengan ayat 206) dan surat Al-Anfâl (dari ayat 1 sampai dengan ayat 40).

Pertama, sebagai  surat Makkiyyah dan lanjutan ayat-ayat sebelumnya, QS  Al-A’râf  pada juz IX ini dapat ditebak akan memuat persoalan yang berkaitan dengan  akidah, kisah-kisah, dan akhlak. Oleh karena itu, kiranya dapat dimaklumi sekiranya surat ini mengungkapkan agak panjang dan dominan tentang kisah-kisah  para nabi terdahulu, di samping dasar-dasar pembentukan akidah dan akhlak, sebagai berikut:

Kisah-kisah yang diungkap, antara lain: kisah Nabi Syuaib as  ketika menghadapi  kaumnya  yang melakukan  penyimpangan dari ajaran Allah, seperti  dalam soal timbangan dan ukuran.  Dilukiskan pula bagaimana sikap dan perlakuan kaumnya terhadap diri Nabi Syuaib, terutama dari para tokoh kaumnya. Bahkan, kisah Nabi Musa as dengan Firaun, termasuk kroni-kroninya, dan tantangan kaumnya sendiri (dari kalangan Bani Israil) cukup banyak mewarnai surat Al-A’râf dalam juz IX ini. Kemudian, mewakili kalangan ruhaniawan atau agamawan yang luntur akidahnya, maka dikisahkan kasus Bal’am lantaran tergoda oleh dunia dan perhiasannya. Akibatnya, dia rela melepaskan ajaran agamanya.

Sebagai ibrah/pelajaran bagi penduduk negeri di mana pun, termasuk Mekah, Allah Swt mengisahkan pula ancaman dan penghancuran yang  telah ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang berbuat zalim di berbagai wilayah dan zaman. Kemudian ditambahkan juga semacam motivasi dan dorongan kepada manusia untuk beriman dan beramal saleh. Sebab, itulah yang akan mendatangkan keberkahan kepada negeri-negeri yang penduduknya beriman, bertakwa dan beramal saleh.

Di dalam menanamkan dasar-dasar akidah, Allah Swt mengingatkan manusia tentang perjanjian primordial yang diikrarkannya di hadapan Allah Swt, agar tidak ada alasan untuk menghindar dari tanggung jawab pribadi di akherat kelak. Selanjutnya, dipaparkan pula  proses kejadian manusia, sebagai anak keturunan Nabi Adam, selain ajakan untuk mengesakan Allah. Ditegaskan pula, bahwa berhala-berhala yang selama ini disembah, sebenarnya tidak layak dipertuhan. Selain itu, dijelaskan  faktor yang menyebabkan manusia mendapatkan petunjuk atau sebaliknya menjadi sesat.

Al-Asma’ ul- Husna juga dimuat dalam surat ini sebagai salah satu bentuk penanaman akidah bagi umat manusia.  Allah Swt Yang Maha Mengetahui menegaskan,  hari kiamat merupakan rahasia Allah, dan hanya  Allah-lah yang mengetahui hal-hal yang gaib.

Selain yang disebutkan di atas, surat ini memuat pula: prinsip-prinsip akhlak, seperti memberi maaf, amar makruf, dan menjauhi orang-orang yang bodoh; juga upaya untuk menghindari godaan setan.  Dipaparkan pula keadaan Nabi Saw yang selalu istikamah dalam menjalankan petunjuk wahyu, di samping perintah memperhatikan Al-Quran dan merenungkan isinya ketika dibaca.

Kedua, surat Al-Anfâl, merupakan surat Madaniyyah, berisi pembahasan tentang  disyariatkannya berperang/jihad di jalan Allah; kaidah-kaidah tentang peperangan; persiapan menghadapi  peperangan; mendahulukan perdamaian dibanding peperangan; dan dampak peperangan terhadap  soal tawanan perang dan harta (ghanimah). Pada bagian lain, diungkapkan pula tentang perintah menaati Allah dan Rasul-Nya; menjalankan seruan Allah dan rasul-Nya; larangan berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya; tipu daya kaum musyrikin terhadap Nabi Saw; keutamaan takwa; dan segala pengorbanan materi untuk menghalangi jalan Allah tidaklah berpahala sama sekali.

Semua uraian di atas diungkapkan secara lebih rinci di dalam subjudul-subjudul yang terdapat dalam daftar isi. Oleh karena itu, para pembaca yang budiman dipersilakan merujuk kepada kandungan makna selengkapnya pada juz IX ini.

Akhir kata, semoga Allah Swt membimbing kita dalam memahami firman-Nya, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam bi muradih.

Bandung, 23 Jumadil Tsaniyah 1436 H / 13 April 2015 M

                                                                                                                                Wassalam,

Tim Penyusun Tafsir Al-Quran Juz IX

Mukadimah Tafsir Al-Quran Juz X

Tafsir Juz 10

Bismillâhirrahmânirrahîm

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS Al-Anfâl [8]: 60)

Tafsir Juz X merupakan sebuah paket bagian isi Al-Quran yang memuat dua surah, yaitu surah Al-Anfâl dan Surah Al-Taubah (Al-Barâ`ah). Ketiadaan tulisan Basmalah di awal Surah Al-Taubah tak ayal menimbulkan persepsi dan asumsi yang beragam di kalangan ulama: ada yang berpendapat bahwa dua Surah itu merupakan satu kesatuan, karena tanpa pemisah ang jelas dan tegas; sedangkan yang lain melihatnya sebagai dua Surah yang berbeda namun berurutan, yaitu, urutan Surah ke 8 dan Surah ke-9.

Sebagai kelanjutan dari sebelumnya, Surah Al-Anfâl, yang mengawali juz X ini dari ayat 41 s/d ayat 75, masih membahas seputar peperangan dan perdamaian, yang diselingi oleh perjanjian. Ini akan terlihat pada tema-tema yang dibahas di dalamnya:

Pedoman pembagian ghanîmah (ayat 41); Perang Badar (42-44); Strategi dalam peperangan (45-47); Setan berkhianat kepada orangkafir di Perang Badar; Orang kafir dihancurkan Allah sebagaimana Firaun dan kroni-kroninya (50-54); Perilaku orang yang memutuskan perjanjian (55-59); persiapan perang melawan musuh (60); Mengutamakan perdamaian, Persatuan, dan motivasi Berjihad (61-66); Hukum tawanan perang dan tebusan (67-71); Klasifikasi orang Islam di aman Nabi dilihat dari iman dan hijrah (72-75).

Sementara Surah Al-Taubah  atau disebut juga Surah Al-Barâ`ah, karena ini merupakan pembebasan dari perjanjian yang disepakati oleh kaum Muslimin dan kaum musyrikin, tema pembahasan berkaitan dengan izin perang dan segala implikasinya, yaitu:

Pelanggaran Perjanjian oleh kaum musyrikin dan pernyataan perang (9: 1-4); kewajiban memerangi kaum musyrikin (9: 5);  jaminan keamanan dalam Islam (9: 6); penyebab putusnya perjanjian antara Rasul dan kaum musyrikin (9: 7-10); pemberian pilihan kepada orang-orang musyrik: taubat atau perang (9: 11-12); perintah memerangi kaum musyrikin yang melanggar perjanjian/sumpah (9: 13- 15); ujian bagi kaum Muslimin (9: 16); pemakmuran masjid (9: 17-18); keutamaan iman dan jihad (9: 19-22); hijrah dan jihad tanda ketaatan kepada Allah (9: 23-24); beberapa pertolongan Allah kepada kaum Muslimin (9: 25-27); Kaum musyrikin dilarang masuk ke Masjidilharam (9: 28); penentangan kaum Muslimin terhadap ahli Kitab (9: 29); keyakinan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) (9: 30-33); kehidupan para rahib dan pendeta (9: 34-35); diharamkan mengulur-ulur bulan-bulan Haram (9: 3-37); dorongan untuk berjihad dan ancaman bagi yang meninggalkannya (9: 38-40); memenuhi panggilan jihad fi sabiîlin l-illah (9: 41); penolakan orang-orang Munafik terhadap perang Tabuk (9: 4-45); bukti keengganan orang munafik dari peperangan tanpa alasan, di samping penjelasan bahaya keikutsertaan mereka dalam peperangan (9: 46-48); sikap bermuka-dua orang-orang munafik (9: 49-52); hancurnya pahala sedekah dan salat dari orang munafik (9: 53-55); janji palsu orang-orang munafik (9: 5-59); delapan ashnaf/kelompok penerima zakat (9: 60);  sikap kaum munafik mencela Nabi Saw (9: 61); kisah orang munafik yang mangkir dari perang Tabuk (9: 62-66); sifat-sifat orang munafik dan balasannya di akhirat (9: 67-70); sifat-sifat orang-orang Mukmin dan balasannya di akherat (9: 71-72); alasan memerangi orang kafir dan munafik (9: 73-74); Orang-orang munafik dan kisah Tsa’alabah Ibnu Hathib Al-Maz’umah (9: 75-78); pupusnya ampunan Allah bagi orang-orang munafik(9: 79-80); kegembiraan orang-orang munafik lantaran tidak ikut terlibat dalam perang Tabuk (9: 1-82);  larangan kaum munafik terlibat dalam Jihad (9: 83-85);  keengganan orang munafik dan sebaliknya semangat kaum Mukminin untuk berjihad (9: 86-89); sifat kemunafikan orang Arab Badwi untuk tidak ikut berjihad (9: 90); dan gugurnya kewajiban jihad bagi orang yang uzur (9: 91-92).

Dari paparan atau uraian tema-tema di atas, pembaca budiman dapat menangkap gambaran umum yang dibahas dalam juz X ini. Namun, penjelasan secara panjang lebar tentang tema-tema di atas dapat dibaca selengkapnya dalam lembaran-lembaran tafsir Juz ini.

Untuk melihat kandungan dari masing-masing tema yang dibahas, baik hikmah maupun pesan moralnya, pembaca dapat mencarinya di bagian akhir dari setiap tema bahasan. Setelah membaca dan merenungkan hikmah dan pesan moral pada setiap tema/bahasan, penyusun berharap pembaca budiman dapat melihat secara jernih, bahwa di balik tegasnya hukum Islam dalam soal perang, terdapat ajaran kelemah-lembutan dengan bahasa yang persuasif; tegas tapi tidak menampakkan kekerasan, yaitu mengutamakan perdamaian dari pada peperangan. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran yang luhur ini. Wassalam.

Bandung, 17 Dzulqa’dah 1436 H / 1 September 2015 M

Tim Penyusun,

 

Panitia Penyusun Tafsir Al-Quran Juz X

Kisah Nabi Syu’aib Dengan Kaumnya (QS Al-A’raf [7]: 88-93

Kisah Nabi Syu’aib Dengan Kaumnya (QS Al-A’raf [7]: 88-93

Para pembesar dan tokoh kaum Nabi Syu’aib itu angkuh. Mereka tidak mau beriman, tidak mau melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, enggan untuk beribadah kepada Allah. Demikian juga mereka curang dalam menimbang, mengukur, dan selalu membuat kerusakan di bumi. Ketika Nabi Syu’aib menyampaikan dakwah dan peringatan, mereka malah mengancam, “Hai Syu’aib, pilih di antara dua pilihan, kami mengusir kamu dan pengikutmu dari kampung halaman ini atau kalian kembali memeluk agama kami, agama yang kita warisi dari nenek moyang kita secara turun-temurun.”
Continue reading “Kisah Nabi Syu’aib Dengan Kaumnya (QS Al-A’raf [7]: 88-93”

Tafsir Al-Quran yang Telah Terbit

Tafsir Al-Quran yang telah terbit

Seri Tafsir Harga
Tafsir Al-Quran Juz  I  

 

 

 

 

 

 

 

Rp 150.000,-

Tafsir Al-Quran Juz  II
Tafsir Al-Quran Juz  III
Tafsir Al-Quran Juz  IV
Tafsir Al-Quran Juz  V
Tafsir Al-Quran Juz  VI
Tafsir Al-Quran Juz  VII
Tafsir Al-Quran Juz  VIII
Tafsir Al-Quran Juz  IX
Tafsir Al-Quran Juz  X
Tafsir Al-Quran Juz XXX
Tafsir Al-Quran Juz XXIX
Tafsir Al-Quran Juz XXVIII
Tafsir Al-Quran Juz XXVII
Tafsir Al-Quran Juz XXVI

Pembelian satu set yang telah terbit diskon R 25.000,- / Juz

Kontak kami:

LSIPK-Uniba

Gedung Rektorat Unisba Lt. 4

Jl. Tamansari No. 20 Bandung 40116

Telpon: 4203368 (Hunting) Eks. 150,151

Tiga Ciri Kesempurnaan Iman

Tiga Ciri Kesempurnaan Iman
Oleh Ayi Sobarna, M.Pd.

“Ada tiga perkara, apabila ketiga perkara tersebut berada pada diri seseorang, maka sempurnalah keimanannya. Pertama, yaitu seseorang yang apabila memperoleh dengan kesenangan, kecukupan atau kelapangan, maka kesenangannya tidak membawanya pada kebatilan. apabila marah, maka kemarahannya tidak membawanya keluar dari jalan kebenaran). Apabila berkuasa, kekuasaannya tidak menyebabkannya berani mengambil sesuatu yang bukan miliknya) (Kitab Al-Mujalasatu Wa Jawahur l-Ilmi). Continue reading “Tiga Ciri Kesempurnaan Iman”